Oleh: Dr. Yurisman Star, S.E, M.Si
(Akademisi/Dosen Institut STIAMI Jakarta)
Muqoddimah
Jakarta – Dampak perang Rusia-Ukraina yang sudah berlangsung lebih dari 5 (lima) bulan sejak perang dilakukan (24 Feberuari 2022), menyebabkan gejolak harga energi dan pangan dunia. Data dan iformasi yang berhasil penulis himpun dari berbagai sumber, menyebutkan bahwa perang (Rusia-Ukraina) telah mendorong naiknya harga minyak dunia yang mencapai diatas US$ 100 per barel dan juga kenaikan harga komoditas CPO, batu bara, serta gas bumi dimana Rusia dan Ukraina adalah eksportir dan pemain utama gas pasar global.
Perang juga memunculkan supply chain disruption dimana rusaknya infrastruktur pelabuhan atau airport akan menghambat global supply. Disaat bersamaan, dunia (termasuk Indonesia) baru saja berusaha pulih dari krisis global supply chain akibat pandemi Covid-19. Perang ini juga menambah guncangan bagi harga bahan-bahan komoditas. Dengan terhambatnya jalur distribusi, maka harga-harga akan semakin meningkat sehingga masyarakat harus mengeluarkan lebih banyak uang untuk pangan dan energi yang berimbas pada menurunnya daya beli yang menghambat gerak maju pertumbuhan ekomomi Dunia termasuk gerak maju pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Penulis meyakini bahwa apa yang sudah dilakukan oleh Presiden Jokowi, dengan bertatap muka dan hadir secara langsung dengan membawa Ibu Negara ke kedua negara yang sedang genjar-genjarnya berperang merupakan hal yang harus mendapatkan apresiasi yang setinggi-tingginya dari masyarakat Indonesia. Walaupun aspek perdamaian sebagaimana misi belum sepenuhnya tercapai, akan tetapi langkah yang dilakukan oleh Presiden memberikan kesan yang positif bagi Indonesia di mata Dunia Internasioanal. Indonesia tidak lagi dianggap sebagai negara Asia yang biasa, melainkan salah satu kekuatan Asia yang mampu berbicara banyak khususnya bagi misi pedamaian dan kemanusiaan Dunia.
Misi Perdamaian dan Kemanusiaan
Yang dilakukan Presiden Jokowi, bertemu secara fisik dengan Presiden Ukraina dan Presiden Rusia, tidak terlepas dari hakekat Negara Indonesia yang lebih mengutamakan pendekatan perdamaian, dialog, dan diplomasi dalam meyelesaikan sertiap persoalan dan gejolak yang terjadi. Langkah yang dilakukan Presiden Jokowi merupakan gambaran kebijakan politik dalam negeri Indonesia yang kemudian diterjemahkan kedalam pergaulan Dunia dengan misi perdamaian dan kemanusiaan sebagaimana yang dicita-citakan sewaktu Indonesia didirikan. Upaya inilah yang sejatinya dilakukan Presiden Jokowi sewaktu berkunjung dan membawa misi perdamaian ke Ukraina dan Rusia beberapa waktu yang lalu.
Misi perdamaian ini harus dilihat secara setara dengan misi Kemanusiaan. Kunjungan Presiden Jokowi ke dua negara yang sedang berperang ini juga untuk menyampaikan pandangan Indonesia sebagai negara berdaulat yang mengedepankan aspek kemanusiaan, artinya peperangan yang terjadi haruslah sedapat mungkin tidak mengorbankan hajat hidup orang banyak dan hajat hidup masyarakat yang paling terdampak dari perang tersebut. Sangat wajar jika kemudian Presiden Jokowi meninjau, berdialog, dan memberikan bantuan langsung ke beberapa daerah di Ukraina yang terdampak langsung dari perang dengan Rusia. Gambaran yang sama seringkali kita temukan dan rasakan ketika Presiden meninjau, berdialog, dan memberikan bantuan terhadap masyarakat Indonesia yang terdampak bencana alam.
Misi Mencegah Krisi Pangan Dunia
Penulis memahami bahwa kunjugan Presiden Jokowi ke Ukraina dan Rusia merupakan upaya untuk mencegah krisis pangan Global yang juga akan berimbas pada Indonesia. Ukraina dan Rusia adalah negara-negara eksportir biji-bijian seperti gandum hingga sereal ke berbagai negara yang menjadi sumber bahan pangan untuk diolah menjadi berbagai macam makanan bagi sejumlah negara. Perang ini telah memblokade arus lalu lintas perdagangan yang melintasi Laut Hitam dan Laut Azov. Hal ini akan memicu kenaikan harga bahan pangan mentah dan jadi karena tidak bisa mengimbangi permintaan. Kenaikan harga ini lah yang berpotensi menimbulkan krisis dan dapat menimbulkan gejolak sosial dan politik.
Dari kunjungan lalu, Presiden mengambil inisiatif dan langkah-langkah diplomasi agar perang yang terjadi sedapat mungkin tidak mempengaruhi jalur dan distribusi logistik Dunia yang melalui atau berasal dari kedua negara tersebut. Maka dari itu, kunjungan Presiden Jokowi berhasil mendapatkan jaminan dan komitmen dari Presiden Ukraina dan Rusia terhadap pasokan pangan dan pupuk dunia, memastikan ekspor gandum dan pupuk benar-benar bisa kembali normal.
Misi Perdamaian dibalik G20
Presiden Jokowi juga memanfaatkan dengan bijak posisi Indonesia sebagai Presidensi G20. Sebagai Presidensi G20, Jokowi memanfaatkan ajang pertemuan puncak G20 pada November 2022 di Bali untuk mengahadirkan kedua negara yang berperang, yakni Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dan Presiden Rusia Vladimir Putin. Kehadiran kedua Presiden pada pertemuan puncak G20 akan menjadi catatan sejarah sukses Indonesia dan Pemerintahan Presiden Jokowi dalam menjalankan misi perdamaian Dunia sebagaimana yang dicita-citakan Bapak Founding Father Pendiri Bangsa Indonesia ini. Tidak hanya sebatas itu, hal ini akan menjadi catatan sejarah suksesnya Indonesia sebagai Presidensi G20 yang otomatis berdampak positf bagi Bangsa Indonesia di mata Dunia. Dampak positif ini diharapkan dalam berimbas pada peningkatan pertumbuhan ekonomi dari berbagai sektor khususnya pariwisata dan industi berbasis Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), karena terlihat jelas di waktu terjadi krisis ekonomi tahun 1998 sektor UMKM lah yang dapat bertahan dalam menghadapi krisi global
Penutup
Sebagai anak bangsa, langkah politik yang dijalankan oleh Presiden Jokowi perlu kita terjemahkan dan pahami bahwa Indonesia adalah bangsa yang besar yang mengedepankan pendekatan perdamaian, dialog, dan diplomasi yang berlandaskan pada nilai-nilai Ketuhanan, Kemanusiaan yang adil dan beradap, persatuan, musyarawah mufakat, dan berkeadilan sosial bagi seluruh masyarakat Indonesia.