Muhaimin : PMII kekuatan penggerak perubahan bangsa

Jakarta – Wakil Ketua DPR RI Muhaimin Iskandar mengatakan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) merupakan salah satu kekuatan dan “gelombang” besar penggerak perubahan bangsa ke arah yang lebih baik.

”Bangsa ini sangat membutuhkan PMII maupun para lulusan PMII sebagai kekuatan yang mentransformasikan masyarakat dan negara. Kita bersyukur menjadi bagian dari gelombang menuju keadaan perubahan yang lebih baik dan menjadi bagian dari ombak besar kekuatan bangsa ini,” kata Muhaimin dalam keterangannya di Jakarta, Minggu.

Hal itu dikatakannya saat memberikan sambutan dalam acara Pelantikan Pengurus Wilayah Ikatan Alumni PMII Jawa Barat di Kota Bandung, Minggu (5/6).

Dia mengatakan, seorang aktivis atau mantan aktivis PMII tanpa disadari seluruh langkah dan gerakannya membangun jejaring yang efektif dan produktif.

”Di PMII ini kekuatan individual nyambung dengan kekuatan kultural. Itu kekuatan yang sangat besar, sangat mewah. Intelektual, transformer, penggerak, aktivis yang mengelola umat. Politik hanya salah satu etape dari seluruh rangkaian. Jabatan bupati hanya terminal, tujuannya gubernur,” ujarnya.

Muhaimin yang merupakan Ketua Majelis Pembina Nasional (Mabinas) PB PMII itu menilai, kader PMII adalah orang-orang yang pernah mengalami atau mendapatkan perpaduan antara teori, gagasan, dasar-dasar, dogma dan doktrin yang diterapkan dalam laboratorium langsung di tengah masyarakat.

Menurut dia, para kader PMII harus bersyukur karena mendapatkan warisan dan mandat historis yang mengalir deras hingga hari ini dalam satu wadah dan satu darah besar yakni aliran darah kekuatan NU.

“Ini patut kita syukuri karena NU memang lahir di luar jangkauan nalar, di luar kemampuan teoritik kita melihat NU. NU lahir sudah dipersiapkan dengan rancang bangun yang komprehensif, lahir langsung besar,” katanya.

Muhaimin menjelaskan, jika seluruh kekuatan yang ada di NU dan PMII bersatu maka akan menjadi kekuatan perjuangan yang luar biasa.

Dia mengatakan, saat ini terjadi perubahan-perubahan dramatis di tingkat global dan nasional, misalnya perkembangan teknologi telah menyentuh segala sendi kehidupan, bahkan membalikkan kondisi dari maya ke nyata dan sebaliknya.

“Perubahan ini adalah cerminan dari kegagapan global dalam ideologi, ekonomi, agama, masuk semua ke Tanah Air. Ada yang keliling kampanye ide khilafah, bebas, dan di sisi lain, kelompok sekularisme kampanye tidak penting agama, kampanye LGBT, dan sebagainya,” ujarnya.

Karena itu dia menilai, PMII dan NU tidak boleh tinggal diam dan harus “turun gunung” untuk menyempurnakan keadaan Indonesia di masa yang akan datang.

Hal itu menurut dia merupakan panggilan dan tanggungjawab untuk mengambil peran semaksimal mungkin di semua level, struktural maupun kultural, politik dan nonpolitik. (Ant)

Artikulli paraprakSpanyol bermain imbang 2-2 dengan Republik Ceko
Artikulli tjetërSetelah Koalisi KIB Terbentuk, Satkar Ulama Indonesia Optimis Capres Airlangga akan Unggul